Pendiri Gosoku Ryu Soke Takayuki Kubota [Bag.3]


Para murid gosoku-Ryu mengawali pelajarannya dengan dasar karate shotokan tradisional untuk membentuk tenaga maksimum dalam melakukan teknik-teknik serangan dan tangkisan. Setelah itu, pelajaran akan beralih kepada konsep Kubota yang mengadopsi teknik-teknik aikido, jiujitsu, dan judo. Pada prakteknya akan diajarkan bagaimana melakukan perubahan aliran tenaga dari teknik halus yang tampak seperti orang menari, ke teknik keras seperti sambaran petir yang diikuti runtunan tenaga yang menggeledek.

Seluruh penampilan gerak dan jurus dalam gosoku-ryu tersebut sangat perkasa yang memukai dan bukan mustahil mampu merobohkan seekor bison. Satu hal lagi yang harus diingat bahwa para karateka gosoku-ryu sudah ahli, gerakan tangannya tidak dapat terlihat oleh mata biasa, dan mereka tdak pernah diperkirakan sebelumnya.

Secara garis besar, teknik pertahanan Kubota dikenal efektif, merupakan penyederhanaan dan penyempurnaan teknik karate tradisional Jepang. Banyak gerakan-gerakan yang dihilangkan karena tidak perlu. Yang diutamakan adalah meredam serangan secepat mungkin. Jika Kubota menahan sebuah serangan tampak seperti orang tidak bergerak. Kubota menekankan bahwa setiap gerakan kosong atau berlebihan akan mengundang serangan lawan. Ketika hendak menangkis sebuah serangan berupa pukulan atau tendangan, diawali dengan kuda-kuda yang ringan dan rileks tanpa mengerahkan tenaga tenaga.

Sesuai dengan konsep bahwa semua gerakan mulanya tidak mengandung tenaga. Tetapi begitu saatnya akan menerima benturan, otot-otot yang diperlukan segera dikencangkan dan dikendurkan kembali setelah selesai. Dampak dari teknik ini yang disertai oleh pernafasan yang sempurna akan menghasilkan tenaga yang sama besarnya dengan serangan yang datang. Selanjutnya, karena kuda-kuda tetap kokoh serangan balasan dengan mudah dan cepat dapat dilakukan.

Ciri khusus pada aliran ini terletak pada sikap awal. Kedua tangan dibuka dengan tujuan secepat mungkin menepis, menangkap, mencengkeram, atau menampar setiap serangan. Kubota merancang posisi ini agar mudah menangkap sambil menjepit dengan siku dalam. 

Gerakan karate gosoku-ryu yang diperagakan Takayuki Kubota seperti umumnya karate tradisional. Tetapi kedua telapak tangannya dibuka dan ketika ada serangan datang langsung ditepis. Kemudian begitu daerah lawan terbuka sedikit saja terbuka langsung dihujani pukulan dan tendangan yang super cepat dan keras. Setelah itu menangkap pukulan atau menjepit tendangan lawan. Bisa juga lawan dipukul dulu bagian lemah ( sendi lutut, siku), setelah itu dipiting. Kalau serangan kita masih belum cukup, lawan boleh dijatuhkan ke bawah, dan dikunci. 

Jika lawan melancarkan serangan tendangan ke arah kepala, karateka gosoku-ryu segera menampar dan menepis tendangan tadi dengan telapak tangannya. Selanjutnya, tendangan tersebut ditangkap lalu dijepit oleh lengan dengan kekuatan yang sangat besar. Karena lawan membuka pertahanannya maka segera lancarkan serangan ke titik lemah. Ketika lawan limbung, segera hempaskan ke lantai dan selesaikan sesuai keperluan yaitu tidak beisa bergerak, pingsan, atau bahkan tewas. 

Peran ki sangat diutamakan dalam pertahanan gosoku-ryu. Tenaga pernafasan ini dibangkitkan dengan mengerutkan dan mengencangkan otot-otot paha, pinggang, dan mengalirkan nafas yang dipandu dengan kekuatan pikiran ke arah perut bawah. Sehingga ketika terbentur tubuh akan sekokoh batu karang. Setelah selesai melakukan pertahanan, tenaga ki tersebut dikeluarkan lagi.

Penguasaan teknik ki ini sangat bermanfaat apabila kita tidak sempat menangkis serangan lawan. Begitu juga ketika hendak melancarkan pukulan, tidak perlu mengepalkan atau mengencangkan tangan. Tenaga yang keluar dibangkitkan dari putaran pinggang, momen gaya dari pengkerutan otot paha yang diperbesar dengan dorongan ki dari perut dan puntiran pinggang maka jadilah pukulan yang keluar seperti lontaran peluru yang sangat keras.

Setelah menguasai teknik pertahanan dengan ki, selanjutnya adalah penguasaan teknik serangan balasan yang cepat dan keras. Aliran Kubota mengajarkan untuk menepis setiap pukulan atau tendangan yang datang karena gerakan itu paling singkat dilakukan dan kekokohan kuda-kuda hampir tidak berubah. Jadi,akan mudah jika melancarkan serangan berikutnya. Selain itu, karena tepisan yang dilakukan begitu cepat, kurang dari setengah detik sebelum lawan membangun pertahanannya. [Tamat]

Oleh: Admin Blog Kindo
(Sumber: Majalah Seni Beladiri DUEL No. 11/ Tahun I/ Agustus 2001)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.