Avatar: Menarik Pelajaran


Pernah nonton film Avatar?

Film fiski ilmiah ini menurut saya bagus. Dari sisi alur cerita juga sisi teknis film yang canggih. Saya mau berbagi hal lain mengenai film ini, meski sedikit. Yaitu kecerdikan dan sikap rendah hati. Saya baca nasihat Master Gichin, yaitu Tekki ni yotte tenka seyo (Victory depends on your ability to distinguish vulnerable points from invulnerable ones), artinya kemenangan tergantung dari kemampuanmu untuk membedakan antara titik yang mudah diserang dan yang tidak.

Kecerdikan tindakan Jake Sully (avatar dari manusia yang menjadi seorang mahluk planet lain) ini dimulai dari sekuel ketika pasukan manusia yang dipimpin oleh Kolonel Quatrich menyerang. Ketika itu semuanya hancur porak-poranda, para Na’vi atau orang Omaticaya melarikan diri. Jake Sully yang telah beralih menjadi avatar, kemudian berbalik melawan pasukan yang diperintahkan oleh Parker Selfridge untuk mengambil bahan Unobtanium yang harganya sangat mahal di wilayah keramat Eywa, mundur ketika terdesak. 

Pada suatu momen buruk bagi orang Omaticaya, Jake Sully yang berada pada situasi dilema, dengan cerdiknya berhasil menjadi seorang penunggang Toruk, Toruk Makto. Toruk artinya Bayangan Terakhir dan Makto artinya Penunggang, atau bisa disebut juga Toruk Makto (Penunggang Toruk), yakni sejenis burung tunggangan yang terbang dengan ukuran yang sangat besar. Padahal selama ini Toruk hanya bisa dikuasai oleh seorang ksatria yang sangat lihai dan hanya orang-orang terpilih saja.

Di sinilah kecerdikan seorang Jake Sully yang patut kita contoh. Bahwa kemenangan tergantung dari kemampuan kita untuk membedakan antara titik yang lemah dengan kecerdikan kita memanfaatkan itu. Toruk adalah burung terganas sekaligus simbol pemersatu. Namun dengan cerdik, Jake Sully memanfaatkan kesombongan Toruk dengan mengalahkannya dari atas, karena selama ini Toruk tidak pernah dan mau melihat ke atas, seolah tidak ada yang lebih tinggi darinya. Inilah poin pentingnya, bahwa kita tidak perlu dengan seluruh tenaga mengalahkan lawan, namun cari peluang kelemahan, dan di situlah kemenangan diraih. 

Jake Sully sebenarnya bisa saja memilih untuk langsung menjadi penguasa tunggal setelah dia berhasil mengendarai Toruk. Namun dia menghargai Tsu’tey putra dari Ateyo penguasa orang Omaticaya, dan dengan rendah hati memilih mendengarkan apa yang akan dilakukan Tsu’tey. Namun, justru malah Tsu’tey yang berbalik mendukungnya. Inilah karakter seorang pemimpin, seorang ksatria yang perlu kita contoh. Kerendahan hati yang membuat orang lain malah menjadi lebih menghormati.

Contoh ini perlu kita tiru dan praktekkan, bahwa kita bersikap rendah hati adalah cermin seorang karateka sejati. Tidak pernah mau memperlihatkan bahwa kita lebih tinggi, dari tingkatan sabuk, prestasi, dan sumbangsih kita pada organisasi atau siapapun. Kecerdikan dan rendah hati adalah resep untuk menjadi seorang bushido yang sejati. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan diskusi. Osu.[Rajapontar]
Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Zanck
AUTHOR
8 Februari 2011 08.30 delete

mm,, masih SUlit saya mmbedakan Titik Itu.. mengenalinya Aja.. masih BLank..
HUFT,,

Reply
avatar
Blog Kindo
AUTHOR
8 Februari 2011 20.37 delete

osh.titik yang mana ya?

Reply
avatar
Inkai Cianjur
AUTHOR
8 Februari 2011 20.42 delete

mungkin titik yang harus diserang...

Reply
avatar
8 Februari 2011 20.43 delete

osh..
oh..itu
ya.titik itu tidak bisa terlihat ketika hanya sekedar menanam teori.jadi akan terlihat ketika kita melatih diri (dengan latihan real tentunya)..
tidak mudah.tapi tidak cukup sulit..

Reply
avatar