The Kungfu Kid, bukan The Karate Kid

Tulisan ini sebenarnya boleh dibilang “telat”. Sebab banyak kawan blogger lainnya banyak yang telah merespon dengan baik tentang film re-make yang berjudul ‘The Karate Kid’. Film buatan Twentieh Century Fox ini dipandang banyak kalangan pemerhati film, dan juga karateka yang suka film berbau karate, tidak layak berjudul The Karate Kid, dan saya pikir lebih tepat kalau saya beri judul The Kungfu Kid.

Di mana posisi ketidaklayakannya?

Awalnya saya bertanya-tanya, apa benar Jackie Chan mengajarkan karate dalam film ini. Sejauh yang saya tahu, Jackie tidak pernah belajar karate dalam sebuah perguruan karate. Meski mungkin Jackie paham gerakan-gerakan karate hasil eksplorasi dia berbagai seni beladiri, mulai dari kungfu sampai parkour dia pelajari. Ternyata dugaan saya terbukti, Jackie tidak mengajarkan karate. Jackie yang memerankan sebagai Mr. Han dan beradu akting dengan aktor cilik Jaden Smith (putra Will Smith), terlihat memang cocok mengajarkan kungfu.

Alasan mengapa film ini berjudul The Karate Kid?

Saya menebaknya ada beberapa alasan.

Pertama, film ini sudah pernah sukses dari sebelumnya dengan judul yang sama yang dipernakan oleh Ralph Macchio. Sehingga diyakini sekuel ini penting mempertahankan embel-embel karate sebagai penarik bagi penonton.

Kedua, faktor Jackie Chan. Sebagai aktor kawakan dalam film genre aksi komedi, Jackie menjadi daya tarik film ini.

Ketiga, tidak dipungkiri bahwa film genre karate secara full jarang, kecuali film-film lawas (kalau di Indonesia dulu ada film Karate Sabuk Hitam dengan pemerannya aktor senior Willy Dozan, mudah-mudahan saya tidak salah karena saya masih kecil waktu itu) dan film yang sekarang karate full hanya segelintir seperti Kuro Obi, High Kick Girl yang dibantu para mantan atlet dan karateka JKA (Japan Karate Association).

Jadi “kehausan” karateka sekaligus pecinta film hampir terobati manakala film bergenre karate dengan pemeran yang top seperti The Karate Kid muncul. Jadi jangan heran, film ini secara finansial saya pikir tidak rugi.

Dan terakhir, film khusus yang juga bisa ditonton anak jarang. Meski banyak film superhero lainnya, namun kadang belum sesuai ditonton anak-anak.

Namun demikian, The Karate Kid bukan saja “mengecewakan” sebagian penonton (khususnya saya), namun juga telah memberikan informasi yang keliru, sangat keliru. Yang menonton itu bukan hanya pecinta film dan karateka, bukan lagi hanya orang tua, tapi juga anak-anak. Di sebagian anak-anak itu ada yang belum atau tidak pernah ikut dalam karate. Jadi ini pemberian info yang keliru, dan bisa disangka kungfu adalah karate. Kecuali anak itu yang aktif bertanya sama orang tua yang mendampingi, dan kalau beruntung orang tua tahu itu bukan karate, tapi kalau tidak? [by BM]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.