Karate dan Rokok


 
Coba perhatikan tulisan yang berlatar merah di bagian belakang bungkus rokok. Di sana tertulis peringatan bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, ada kanker paru-paru, efek pada bayi dan janin, impotensi, dan lainnya. Peringatan gencar dari kementerian kesehatan dan juga LSM-LSM, juga pemda-pemda, tidak berhasil! 

Judul ‘Karate dan Rokok’ memang sepintas tidak ada korelasi yang cukup penting. Namun, saya melihat ini penting untuk kita ketahui. Apa alasannya? 

Di karate kita belajar gerakan yang membutuhkan pernafasan yang prima. Keseimbangan badan, nafas, juga kesiapan tubuh menjadi penting untuk dilatih. Merokok adalah penghilang ‘keseimbangan’ kebugaran fisik juga kelancaran nafas. Sehingga tidak sinkron kita ingin badan menjadi semakin sehat, di sisi lain jalan menuju sehat kita hambat secara sengaja. Juga, gak asyik kalau lihat karateka (apalagi senpai) istirahat latihan karena nafas tersengal akibat merokok. 

Saya menghargai pilihan merokok, namun pilihan karateka menjadi perokok itu buruk. Saya yakin, karateka perokok pun memahami ini. Saya pun tidak punya hak memaksa untuk semerta-merta mereka untuk berhenti merokok, hanya sebatas menganjurkan. 

Master Gichin mengatakan Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire (Know yourself first, and then others). Artinya kenali (kuasai) dirimu sendiri baru orang lain. Bagi kita mengendalikan (menguasai) diri untuk tidak merokok itu bukti nyata konsisten dengan semangat dan jalan seorang bushi. Selain baik untuk kesehatan, tidak merokok adalah contoh karateka teladan. 

Semoga kita bisa memberikan contoh teladan bagi kohai kita. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan diskusi. Osu.[Rajapontar]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.