Giri: Kesetiaan (Bagian 2_Tamat)

 
Pada dasarnya tidak salah kita belajar dari aliran dan sistem karate-do tertentu yang lainnya. Saya belajar Kata dari aliran tertentu, dan jika saya menyukai teknik Kumitenya, saya akan pelajari dan praktekkan dalam latihan saya. Tapi tidak akan mengubah aliran dan afiliasi saya!

Para juara turnamen datang dan pergi, mereka memiliki rentang waktu yang pendek. Sementara praktisi karate-do tidak mempunyai batas waktu. Maka mereka dapat berlatih seumur hidup mereka, memantapkan kihon, gerakan-gerakan, Kata, Bunkai, Gohon Kumite/ Ippon Jiyu Kumite, Jiyu Kumite, latihan makiwara, pernafasan, meditas, latihan teknik beladiri, dan lain-lain.

Hampir seluruhnya para petarung turnamen berhenti pada usia akhir 20-an dan pertengahan 30-an. Selanjutnya apa? Apakah menyerah atau lebih baik lagi? Jika mereka berubah-ubah dari satu aliran ke aliran lain, dari satu perguruan ke perguruan lain, apa yang akan mereka ajarkan? Mengajar dari semua gaya yang mereka miliki? 

Apa yang terjadi dengan Giri atau loyal di Barat? Sepertinya Giri sudah digantikan oleh ego –sindrom “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput rumah sendiri”. Orang-orang latihan selama tiga sampai lima tahun, mendapatkan sabuk hitam, berfikir mereka sudah ahli, dan pindah ke “rumput tetangga” yang lain. Tidakkah mereka berfikir bahwa mereka butuh waktu paling sedikit 20 tahun untuk bisa sedikit menguasai hanya satu model aliran dari banyak aliran karate-do? 

Tentu saja kamu bisa menguasai aspek latihan fisik hanya dalam waktu yang singkat. Namun, kamu perlu waktu yang sangat lama untuk bisa memperdalam dan mengembangkan kemampuan serta memahami sesuatu di balik semuanya. 

Saya bukan seperti sebagian orang yang suka menerima murid dari yang berbeda aliran. Saya selalu heran mengapa mereka mau meninggalkan guru sebelumnya. Dan jika mereka bergabung dengan latihan saya, seberapa lama mereka akan bertahan dan akan kembali meninggalkan latihannya? 

Jika mereka cukup tinggi tingkatannya dalam gaya sebelumnya, mereka harus merelakan dirinya kembali ke tingkatan yang paling rendah, sabuk putih. Mereka harus mengosongkan cangkirnya, sebelum saya kembali mengisi lagi cangkir kosong itu. Melupakan seluruh kebiasaan dan teknik yang lama dan membuka untuk pelajaran baru. 

Jika mereka adalah para juara dalam turnamen-turnamen dan tidak menyisakan sedikitpun rasa ego dalam pikiran mereka, kecuali kerendah-hatian. Maka mereka boleh datang kepada saya namun jangan menunjukkan apapun. Beberapa orang biasanya dilatih dulu paling tidak minimal satu tahun oleh saya sebelum mereka menerima tingkatan dalam sistem kami. Dan bahkan mereka tidak meminta kembali tingkatan mereka yang lama, hanya ketika mereka sudah memperlihatkan kemajuan dalam Goju Kai. Dalam beberapa kasus, adalah hal sulit bagi seseorang untuk mengubah gayanya, dan memulai dirinya layaknya seorang pemula. 

Saya benar-benar memperhatikan secara lebih dekat bagi para calon murid, pemegang sabuk hitam, sebelum menerima mereka. Saya sudah menolak beberapa orang dalam tahun ini. Saya harus mengerti karakter mereka, dan alasan mereka berubah, sebelum diterima oleh saya. Jika saya melakukannya, mereka adalah orang-orang dengan karakter personal yang secara dasar bagus, dengan keinginan kuat belajar karate-do untuk meningkatkan kemampuan mereka, tidak sekedar memenangkan pertandingan, atau membuat nama mereka semakin dikenal. 

Mungkin orang-orang pada awalnya membuat kesalahan, dengan bergabung ke dalam organisasi karate tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Mungkin mereka mengubah motivasi mereka untuk belajar, dan mencari sesuatu yang baru. Mungkin mereka bergabung dengan perguruan yang berorientasi “kejuaraan” saja, dan kemudian merasa bahwa karate-do tidak sekedar memenangkan pertandingan saja. Mungkin pelatih sebelumnya pernah melakukan kekerasan atau mungkin model sebelumnya terlalu menguras finansial.

Kadang-kadang murid mempunyai pembenaran tersendiri mengenai alasan dia pindah, tapi kemudian dia harus bisa memastikan bahwa pelatih yang baru adalah persinggahannya yang terakhir. Singkatnya, saya mau memberikan beberapa saran bagi calon murid:
  1. Luangkan waktu lebih lama untuk melihat perguruan-perguruan atau pelatih-pelatih, sebelum kamu menentukan dan bergabung dengan salah satu dari mereka
  2. Pelajari sikap-sikap dan perilaku pelatih kepada para muridnya, perilaku siswanya, kedisiplinan, sebelum bergabung
  3. Satu kali kamu berkomitmen –jika kamu secara serius menghadiri dan menghabiskan waktu untuk belajar karate-do—tetap ikuti dalam model atau aliran dan juga satu pelatih (guru)
  4. Belajar dan kembangkan kemampuan secara penuh model tersebut
  5. Jika kamu ingin mengikuti suatu pertandingan, latih gaya kamu dan buatlah nyaman untuk dirimu
  6. Semua gaya efektif jika digunakan dengan tepat. Setiap model mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pelajari itu, dan bagaimana cara mendapatkan yang paling maksimal melalui kekuatan kamu dari kekurangan tersebut
  7. Jangan kekanak-kanakkan. Berikan seperti yang kita terima. Terima pengetahuan dari gurumu, dan berikan loyalitas untuknya (giri).
  8. Ingat: orang tua kamu yang membawa kamu ke dunia ini. Mereka mengasuh kamu, memberi kamu makan, memberi pakaian untukmu, mendidik kamu, dan seterusnya. Apakah kamu tega menolak orang tua kamu, berpindah ke yang lain, dan meninggalkannya? Saya harap tidak.
Gurumu layaknya orangtuamu dalam karate dimulai ketika kamu masih bayi (sabuk putih). Dia mengajar kamu dan membantu kamu untuk berkembang dalam karate—mulai dari sabuk putih, kuning, hijau, biru, coklat, sampai tingkatan Dan kamu. Mengapa kemudian kamu meninggalkannya? Mereka juga manusia. Mempunyai kekuatan dan kelemahan. Tidak ada seseorang pun yang sempurna. Mereka masih belajar, seperti kamu, untuk belajar karate-do dalam hidupnya. Mengapa kamu tidak belajar bersama?
 
Berikan gurumu loyalitas kamu, kesetiaan kamu, giri kamu, sehingga suatu saat siapa tahu kamu kemudian akan menjadi sensei juga. [Tamat]

Artikel aslinya berjudul On Giri: Loyalty yang ditulis oleh Shihan Starling, Wakil Presiden IKGA untuk wilayah Oceania. Editing dan alih bahasa oleh Blog Kindo (Karate-do Indonesia) dengan penambahan gambar sebagai ilustrasi.
Previous
Next Post »